2/03/2013

Cara Berbicara


Salah satu bagian yang menyenangkan dari kepribadian seseorang adalah kemampuan untuk bisa berbicara dengan baik. Seseorang yang bisa mengekspresikan diri dengan jelas dan tidak samar akan lebih unggul daripada yang tidak bisa. Pandai berbicara adalah salah satu anugerah besar terhadap orang-orang tertentu. Dengan bantuan kehebatan berbicara, seseorang bisa menemukan jalan yang jelas dalam semua bentuk situasi atau masalah. Yang lebih penting, lewat kata-kata yang tepat lah ia bisa merembeskan semua kepercayaan diri yang menjadi kunci semua kesuksesan. Bahkan, faktanya; kemampuan berbicara adalah kualitas yang paling menonjol yang bisa dicatat seseorang untuk membukakan jalan baginya menuju semua jenis kesuksesan dan dalam semua bidang pekerjaan.

Ada berbagai mode kemampuan berbicara. Ada orang yang gampang terselip lidah dan otaknya berputar-putar tak karuan saat berbicara dengan seseorang di ruang kecil atau saat hendak berbicara di ruang besar yang dihadiri banyak orang. Ada juga orang yang tidak terlalu lancar dengan kata-kata tapi punya jenis ekspresi dan suara yang memikat pendengarnya sehingga bisa memberikan kesan sangat kuat. Ada juga jenisjenis lainnya.

Meski ini bakat yang sudah terbawa sejak lahir, kemampuan berbicara ini bisa juga dikembangkan dengan menggunakan cara-cara latihan sistematis. Salah satu cara dasar untuk belajar meningkatkan kualitas berbicara adalah latihan berbicara lebih jelas dan lebih efektif. Yang dimaksud efektif di sini bukanlah si orang yang berbicara bakal segera melihat dampak dari pembicaraanya pada si pendengar saat pembicaraan berlangsung. Bahkan, kebiasaan menerawangkan mata untuk mencari tahu seberapa besar dampak pembicaraan itu pada pendengar justru akan berdampak lebih buruk bagi efektifitas pembicaraan itu sendiri. Berbicara efektif ini lebih berarti kita harus berbicara dengan cara sedemikian rupa sehingga pasti bisa menghasilkan suatu dampak tertentu. Cara berbicara semacam ini harus dilatih jika kita tidak dianugerahi bakat berbicara efektif. Setelah bisa menguasai kemampuan berbicra seperti ini, kita segera lupakan tentang dampaknya langsung pada pihak yang kita ajak bicara. Justru, kita harus melanjutkan pembicaraan secara alami dalam bentuk obrolan, tanya-jawab, atau bahkan pidato tanpa berharap mendapatkan dampak langsung saat pembicaraan sedang berlangsung. Biasanya, dampak pembicaraan itu akan lebih terasa setelah pembicaraan berlangsung.

1. Pidato yang bagus

Kita semua tentu sudah sangat akrab apa yang dimaksud dengan cara pidato atau ceramah yang bagus. Mari kita lihat gaya ceramah dai kondang. Ia berbicara di depan publik. Jumlah pendengarnya bisa kecil atau sangat besar tergantung pada kapasitas ruang dan medianya. Hal yang menjadi perhitungan dai itu adalah bagaimana ia menyampaikan khotbah dengan penampilan paling mengesankan –selain isi dari khotbahnya itu sendiri. Jika berhasil, ia akan memikat perhatian audiens lalu mendapatkan applause dari siapa saja yang mendengarkan khotbahnya.

Maculay menegaskan, semakin besar audiens atau publik berarti semakin bagus hasilnya bagi seorang orator. Sebaliknya, bagi pembicara yang setengah-setengah, semakin besar publik berarti rasa cemasnya juga semakin besar. Ini artinya, pembicara sejati tidak takut pada besarnya jumlah pendengar. Seorang pembicara yang tanggung akan takut pada jumlah pendengar yang besar.

Kualitas utama bagi pidato yang baik adalah para pendengar bisa menerima isi pesannya dengan baik. Semua pemikiran, ide, maupun sikap penentangan dari pihak pendengar segera meleleh di hadapan arus kuat kata-kata yang dialirkan si pembicara. Aliran kata-kata itu bisa menyengat bagaikan listrik sehingga secara bertahap mengubah pandangan para pendengar yang berbeda menjadi sependapat dengan apa yang disampaikan si pembicara. Masing-masing pendengar menjadi lupa ia sebelumnya punya pendapat yang berbeda. Atau, pendengar tak peduli lagi bahwa sebelumnya ia jengkel atas volume atau kecepatan suara si pembicara. Masing-masing pendengar merasa apa yang diucapkan si pembicara adalah kebenaran sejati.

Lalu, power bagaimana yang dipunyai pembicara semacam itu? Tentu saja powernya luar biasa. Pembicara semacam itu bisa menciptakan atau menghapus suatu isu, bisa menyuntikkan doktrin jauh ke dalam benak si pendengar, dan sejenisnya. Andai (sekali lagi, andai) pembicara sekaliber ini ingin menyakiti pendengarnya, ia akan bisa dengan mudah melakukannya lewat kata-kata. Kalau untuk kebaikan pendengar, ia bisa mengajarkan cara-cara baru, disiplin baru, kepatuhan, dan kesetiaan untuk menghasilkan manfaat sebesar-besarnya.

Orang secara umum akan menyukai pembicara yang baik ini. Mereka akan merasa si pembicara ini tidak sekadar ingin menciptakan nama baik bagi diri sendiri tapi memiliki sesuatu yang diperjuangkan untuk orang banyak. Ia menginginkan hal-hal yang baik bagi khalayak ramai dan bukannya sekadar mencari nama baik untuk diri sendiri. Ia menyampaikan sesuatu yang brilian dan tujuan kejayaan di dalam kehidupan dan bahkan sesudah hidup. Ia akan melihat dirinya sekadar alat atau suatu cara bagi suatu tujuan yang lebih besar. Hal utama yang ia buru adalah membangkitkan masyarkaat agar berpartisipasi aktif dan memetik hasil, bukannya menjerumuskan mereka ke dalam perbudakan atau jeratan.

Saat pembicara sekaliber ini sudah angkat bicara, ia bakal meleburkan diri sendiri. Dalam kondisi sudah kehilangan diri sendiri ini, ia seolah-olah bukan lagi manusia, bukan lagi pembicara, tapi hanya penyampai pesan dari sesuatu yang jauh lebih besar dan agung. Pembicara seperti ini bisa menjadi pemimpin sejati. Applause dan dukungan yang ia terima sifatnya seragam dan abadi terhadap kepribadiannya.

Selain dalam khalayak yang lebih besar, kita juga melihat bagaimana pembicara yang baik dalam lingkup percakapan yang melibatkan lingkaran-lingkaran lebih kecil; di antara teman dan mitra, dalam pesta atau pertemuan ramah-tamah, di dalam acara-acara kecil, dan sejenisnya. Dalam kondisi seperti ini, pembicara yang bagus harus bisa mengikuti aturan atau penampilan yang berbeda dalam percakapan. Itu karena dalam lingkungan yang lebih kecil tentu saja efek dramatis dari oratorinya juga berbeda. Meski hanya sejumlah kecil kata-kata yang disampaikan, bisa saja beribu opini didengarkan. Bahkan, orang bisa mendapatkan popularitas sebagai pembicara yang baik karena suaranya, volumenya, intonasinya, rasa humornya, dan kecerdasannya. Suara yang bagus dan mengesankan adalah separo dari total bobot mutu pembicara itu. Jika seseorang memiliki suara yang bagus dan pengucapan yang khas, lalu memiliki taktik yang pas untuk ambil bagian dalam suatu percakapan, maka ia akan lebih gampang disukai dalam pertemuan-pertemuan skala kecil ini. Selain dari pertemuan keluarga atau teman, ia bisa saja diundang ke dalam pertemuan sosial (yang banyak pesertanya tidak dikenal) untuk mengungkapkan fikirannya tentang topik-topik tertentu. Atau, mungin saja ia diminta ambil bagian dalam membahas tren umum yang sedang jadi perbincangan. Jika ia tidak bisa memberikan nilai baik dalam pembicaraan itu, popularitasnya bisa memudar. Itu karena, dalam semua keadaan, pembicara yang bagus harus memiliki banyak informasi, perbendaharaan kata, dan banyak kreativitas dalam penyampaiannya untuk memelihara penerimaan sosial di antara orang-orang lain.

2. Bercakap-cakap

Kita sudah menyentuh subyek ini dalam pembahasan sebelumnya. Sama-sama bertujuan menyampaikan pesan, bercakap-cakap sangat beda dengan berpidato, berorasi, berkhotbah, atau beraksi-panggung. Dalam percakapan, pesan tidak disampaikan satu arah tapi dari dan ke berbagai arah yang melibatkan sejumlah kecil peserta.

Agak aneh, tapi nyata, bahwa ada beberapa orator ulung atau aktor pangung jagoan yang agak tidak bagus dalam percakapan. Bisa jadi ini karena kondisi yang berbeda. Seorang orator mungkin mempertimbangkan pendengarnya berdasarkan bentuk dan besarnya jumlah. Tapi, jika di dalam ruang, saat berbicara dengan hanya empat atau lima orang, ia memandang audiensnya menyempit sehingga tidak bisa mengekspresikan diri sepenuhnya. Ini karena ia terjebak dalam kebiasaan memperlakukan semua orang sebagai pendengarnya –seperti halnya kebiasaan beberapa guru yang menganggap semua orang adalah muridnya. Bagi aktor panggung, kegagalan melakukan percakapan mungkin juga disebakan kegagalannya menyesuaikan diri dengan keadaan. Mungkin ia orang seni sejati sehingga kesulitan memberikan perhatian atau mengungkapkan perasaan di tempattempat umum dan hal-hal biasa dalam kehidupan sehari-hari. Sepertinya, ia telah terjebak di dalam upaya memenuhi ekspresi teatrikal dalam situasi dramatis. Jadi, untuk menjadi partisipan yang baik dalam percakapan kecil, ia harus memiliki seni yang beda mutlak dari seni-budaya meski sama-sama menggunakan suara dan kata-kata.

Esensi dari percakapan ini bukan pada talenta (seperti yang dimiliki orator atau seniman) tapi lebih pada seni atas kesadaran dan perasaan praktis tentang kondisi lingkungan. Maka, jangan heran jika banyak orang dari strata lebih rendah yang lebih memiliki seni ini daripada masyarakat dari kelas menengah atau bahkan yang berpendidikan tinggi. Ini karena orang-orang yang dicap berada di kelas sosial rendah ternyata memiliki lebih banyak pengetahuan dan pengalaman praktis. Mereka juga lebih akrab bersentuhan dengan cara-cara hidup praktis di dunia ini sehingga cara berfikir dan berekspresi mereka lebih gampang tumbuh dan terasah. Mereka juga lebih mengandalkan pada eksistensi sosial dan kelompok –masyarakat pedesaan, suku-suku primitif, dan sejenisnya– dan mereka mengembangkan cara ekspresi yang impresif. Yang lebih penting, mereka sudah meleburkan semua kesadaran atas diri sendiri serta mengurangi rasa malu. Ini membuat mereka lebih bisa membuka benak mereka kapan pun mereka mau dan kapan pun mereka ingin melalui kata-kata sederhana, jelas, bisa dipahami, dan jauh dari istilah-istilah ornamental yang biasa dipakai kelas-kelas berpendidikan tinggi. Cara ekspresi terbaik yang bisa dipakai orang-orang yang terlibat percakapan adalah mengekspresikan pemikiran dengan jalan pintas tanpa berbelit-belit. Tapi, itu bukan berarti berbicara dengan sangat cepat dan tergesa-gesa bisa membuat seseorang lebih cepat dan menemukan jalan pintas untuk mengekspresikan fikirannya dan membuktikan diri sebagai pembicara yang bagus. Yang paling impresif bukan lah orang yang berbicara dengan kecepatan tertinggi, tapi orang yang yang berbicara dengan jelas, dengan memikat, dan dengan kepercayaan diri. Karena itu, jangan berfikiran untuk memuntahkan segala pemikiran dalam waktu secepat mungkin tapi manfaatkan waktu serasional mungkin untuk mengungkapkan fikiran. Kalau waktunya mendesak, boleh bicara singkat, padat, dan cepat. Kalau ada banyak waktu, ya bicaralah dengan lebih santai, tenang dan jelas.

Kadang, ada pembicara yang tiba-tiba diinterupsi dalam suatu percakapan. Dalam hal seperti ini, si pembicara jangan langsung patah arang, lalu memaksakan pembicaraan ke tema yang ia ungkapkan. Jika pembicaraan dihentikan karena ada sesuatu yang lebih penting, ia harus rela menghentikan percakapan dengan tema apa pun. Jika memang ada orang lain yang tertarik dengan subjek percakapannya, tentu ia akan diminta melanjutkan pembicaraan kembali setelah interupsi lewat. Ia bisa kembali mengangkat tema yang sempat terputus. Sebaliknya, jika tidak ada lagi orang yang tertarik pada tema itu setelah interupsi, lebih baik si pembicara melupakan saja tema yang ia ungkapkan. Ia harus segera mengganti dengan topik baru yang mungkin saja menjadi tema percakapan dalam kelompok. Seorang pembicara yang baik tentu harus bisa mengikuti arah angin, dan bukannya mencoba menentang arus percakapan atau mencoba memonopoli pembicaraan. Lalu, kualitas dasar apa yang harus dimiliki pembicara dalam percakapan kelompok kecil seperti ini? Hal pertama yang harus dipelajari adalah bagaimana memiliki ketertarikan praktis terhadap situasi di sekitarnya lalu memberikan konsentrasi atau perhatian pada sekitarnya. Seorang penyair memang pandai mengangkat topik tertentu lewat bahasanya yang memikat. Tapi, bisa jadi penyair itu bukan pembicara yang baik dalam percakapan kelompok kecil. Itu karena mungkin saja ia tidak terlalu tertarik pada topik mutakhir atau perjuangan hidup individual sehari-hari, meski ia menulis tentang perjuangan semacam itu dalam bentuk puisi. Ia mungkin penyair jenius, tapi ia juga harus terlibat secara personal dalam topik-topik tertentu jika ingin tahu secara menyeluruh atau menjadi pembicara yang baik. Atau, mungkin juga penyair tadi memandang semua bentuk percakapan kecil sebagai hal yang tidak berguna. Ia merasa waktunya lebih berguna jika digunakan untuk melakukan analisis sendiri atau mencurahkan power fikirannya sendiri daripada digunakan untuk berbicara yang ringan-ringan dengan sejumlah kecil orang. Namun, bagi orang-orang kebanyakan, pembicaraan kecil semacam ini adalah cara untuk mengetahuii sesuatu. Bisa jadi, mereka bisa memanfaatkan pembicaraan kecil ini untuk saling tukar pandangan dan informasi sehingga bisa melegakan rasa dahaga mereka akan pengetahuan.

Hal yang sangat penting bagi orang yang ingin terlibat aktif dalam percakapan adalah tertarik pada orang lain dan lingkungan serta tertarik dalam cara bertukar bicara. Jika tertarik dalam kehidupan dan segala pernik di dalamnya, ia akan dapat dengan mudah menemukan penyulut percakapan untuk mengekspresikan opininya. Ia akan memiliki kecenderungan untuk menerima dan diterima. Ia juga harus bisa menghargai opini orang lain sambil tetap menghargai opini diri sendiri. Saling penghargaan yang timbal-balik ini adalah landasan bagi percakapan yang produktif dan berkesinambungan. Setiap bentuk perasaan lebih tinggi atau perasaan lebih rendah dan sejenisnya akan membuat komunikasi antara dua pihak menjadi tidak imbang dan tidak menarik. Susah sekali terjadi perbincangan seimbang antara majikan dan pembantu, antara orang yang punya otorita dengan yang sekadar bekerja, antara pemberi utang dengan penerima utang, dan sejenisnya. Yang terjadi adalah satu pihak mengungkapkan sesuatu dan pihak lain mau-tak-mau harus menerimanya. Jika ingin menjadi pembicara yang baik dan mendapatkan percakapan yang menarik, kita harus menghilangkan semua kondisi kompleksitas seperti yang baru disebutkan di atas. Memang selalu ada hubungan semacam antara boss-majikan, tapi kompleksitas hubungan yang semacam itu harus disisihkan atau dikurangi hingge mendekati nol. Tidak boleh ada pembedaan sekecil apa pun atas satu pribadi terhadap pribadi lainnya, namun harus ada keharmonisan sempurna antara dua pribadi atau lebih dalam hal bertukar kata, apresiasi, kritik, dan sejenisnya. Jika ada satu pihak yang tidak didengar, maka percakapan pada dasarnya sudah tidak ada. Topik dalam percakapan harus dimainkan seperti sepakbola yakni dioper dari satu orang ke orang lain. Jangan sampai dikotaki hanya di satu atau sedikit orang.

3. Terlalu Aktif

Kita secara sekilas sudah menyinggung tentang sifat buruk berupa terlalu aktif berbicara. Orang yang terlalu aktif berbicara akan berusaha memusatkan pembicaraan pada dirinya sendiri. Ia tidak akan berhenti bicara kecuali hanya untuk menarik nafas. Setelah itu, ia memulai lagi segalanya dengan penuh nafsu sehingga seolah-olah orang lain tidak punya apa pun untuk dibicarakan. Jika ada orang seperti ini, yang paling menyakitkan orang lain adalah semua pembicaraan dan semua ekspresi terpaksa harus ditekan habis. Bagi beberapa orang, kondisi hanya mendengar rentetan ucapan orang lain ini bisa menjadi tekanan mental dan fisik. Jadi, sikap terlalu aktif berbicara adalah salah satu sisi negatif yang harus dienyahkan dalam pembicaraan karena bisa memberikan tekanan pada pihak tertentu.

Memang, orang yang aktif berbicara adalah orang yang mendapat bakat kemampuan berbicara yang patut dihargai. Tapi, jika ia mengekspresikan kemampuan itu secara berlebihan dan melampaui batas, itu juga tidak baik. Pertama-tama, bisa saja setiap orang terpikat lalu memberikan perhatian penuh pada omongannya. Tapi, sesaat kemudian, orang akan mulai sadar bahwa ia itu masuk ke dalam golongan orang yang terlalu banyak bicara. Kalau harus terus mendengar selama periode pembicaraan, orang akan mulai bosan padanya dan bahkan menaruh curiga.

Sifat terlalu aktif berbicara hendaknya dijauhi. Jika ingin membangun karakter dan kepribadian yang bagus, kita harus tahu bagaimana mengendalikan lidah pada waktu yang tepat. Orang yang cermat akan cepat tahu kapan ketertarikan pendengar mulai tidak fokus. Ini berarti lampu kuning pertama bagi si pembicara. Maka, ia harus bersedia berhenti sejenak lalu memberi kesempatan pada pihak lain untuk bicara.

Pembicara yang terlalu aktif biasanya sudah menyadari kemampuannya itu sejak dini, saat ia merasa menjadi pembicara di antara rekan, pendengar, hingga pengagumnya. Adanya secercah kekaguman itu lalu membuatnya kecanduan. Jika pembicaraannya diterima orang lain, ia akan merasa berbangga hati. Semakin banyak didengar, semakin bangga ia. Semakin kecanduan akan kebanggaan, semakin banyak ia melakukan pembicaraan. Semakin banyak demikian, semakin banyak pula ia mengupayakan agar pembicaraan selalu terpusat pada dirinya. Ia berusaha menjadikan dirinya sebagai pusat ketertarikan orang lain dalam setiap pembicaraan.

Gejala ‘penyakit’ terlalu aktif bicara itu bisa ditemukan pada usia dini. Anak-anak yang bicaranya bagus bisa dipertemukan di dalam satu kelompok untuk saling berbicara. Anak-anak yang bicaranya terlalu aktif tidak akan bisa dipertemukan dalam satu kelompok untuk melakukan pembicaraan. Ada kecenderungan masing-masing anak atau orang yang terlalu aktif ini membentuk kelompok pembicaraan sendiri di mana ia bisa menjadi pusat perhatian dan orang lain hanya pasif mendengarnya.

Gejala ‘penyakit’ ini bisa dikoreksi sejak usia dini. Namun, jika gejala ini dibiarkan tumbuh lalu mengakar dalam kepribadian, ia akan menjadi tipe orang yang dihindari orang lain. Dalam beberapa paragraf sebelumnya, kita sudah menyebut berbicara secara aktif bisa membuat orang disenangi dalam lingkaran-lingkaran pergaulan. Namun, aktif ekstrim dalam pembicaraan adalah hal yang berbeda. Orang yang terlalu aktif berbicara bakal sulit mendapatkan teman sejati. Ada kecenderungan, ia selalu menginginkan korban baru yang mau mendengar segala pembicaraannya seperti kerbau yang dicocok hidung. Karena sadar bahwa teman-teman akan menghindarinya, maka ia akan selalu memburu wajah-wajah baru sebagai mangsa.

Sifat terlalu aktif bicara ini tak ubahnya seperti penyakit –yang sebenarnya bisa disembuhkan dalam usia dini melalui langkah-langkah kuat yang ditegaskan orang tua, guru, atau pengasuhnya. Sifat demikian ini, jika dibiarkan, bisa menghancurkan kepribadian seseorang. Seberapa pun tinggi pendidikannya, ia akan langsung tidak dihargai orang lain saat diketahui ia punya penyakit terlalu aktif bicara. Unsur-unsur lain dalam pengembangan kepribadiannya tidak akan bisa mengenyahkan dampak penyakit ini. Orang yang bagus dalam banyak hal di dalam hidup bisa saja menjadi orang yang penuh kegagalan hanya karena mengumbar kelemahannya sebagai orang yang terlalu aktif berbicara.

Dalam kehidupan praktis dan bisnis, sifat terlalu aktif bicara ini juga dibenci. Orang yang terlalu aktif bicara bakal memburu kepuasan dengan terus berbicara tanpa tujuan jelas. Orang yang terlalu banyak bicara hanya akan bicara dan terus bicara. Ia menyentuh satu topik tertentu, lalu meninggalkannya begitu saja, kemudian kembali lagi, tanpa motif atau dorongan tertentu. Akibatnya, orang yang diajak bicara menjadi bingung lalu mencampakkan ia begitu saja tanpa memberinya bisnis.

4. Cara Bicara yang Buruk

Bicara yang buruk ini bukan berarti ada kekurangan dalam power berbicara. Esensi dari ini lebih merujuk pada fakta bahwa ekspresi si pembicara tidak jelas. Kadang ia berbicara menggumam, suaranya tak terdengar, bahasanya kacau, atau kondisi tidak jelas lainnya. Ini membuat orang lain sukar menangkap apa yang sedang ia bicarakan. Saat seseorang mengalami tekanan atau stress tertentu, atau sehabis bekerja terlalu berat, atau saat benar-benar kelelahan, atau sedang kehabisan nafas setelah olahraga lari cepat, ia butuh menghirup udara segar sehingga akan sulit berbicara dengan sikap normal. Saat nafasnya sudah tidak lagi terengah-engah, tentu ia akan kembali bisa berbicara seperti biasanya.

Kadang juga terjadi, jika seseorang tidak memberi perhatian khusus pada seni berbicara maka ia mengalami kesulitan berbicara dalam cara berkelanjutan atau memfokuskan perhatian dalam tempo lama terhadap satu topik tertentu. Akibatnya, lamakelamaan kata-katanya menjadi tidak terangkai dengan padu dan bagus, kehilangan warna dan kegairahan, hingga akhirnya cara berbicaranya menjadi ngelantur, tidak lagi cerdas, dan tidak enak didengar telinga orang-orang lainnya.

Bentuk lain dari cara berbicara yang buruk adalah hasil dari kebiasaan buruk di masa muda. Ketika masih muda, orang itu biasa bergaul dengan anak-anak sembarangan. Ia jadi terbiasa menggunakan kata-kata slang, penuh umpatan, kasar, dan sejenisnya. Ketika sudah dewasa, tapi ia masih susah menghilangkan kebiasaan buruk itu, maka katakata yang keluar dari mulutnya seringkali menyakiti hati orang sekitarnya. Akibat cara bicara yang kurang menyenangkan ini, ia menjadi dihindari oleh masyarakat sekitar. Cara berbicara yang buruk adalah bukan karena kualitasnya tidak bagus tapi karena kurangnya tujuan atau sasaran yang biasa terkandung dalam semua jenis pembicaraan. Saat berbicara, seseorang harus melakukannya sedemikian rupa sehingga ada sesuatu yang bisa disampaikan pada pihak lain. Jika cara penyampaian itu tidak dilakukan dengan baik, artinya jika pihak lain tidak bisa menangkap isi otaknya atau salah memahaminya, maka akan terjadi banya kebingungan sehingga mengikis habis tujuan dari pembicaraan itu. Jadi, saat pembicaraan tertentu –baik di depan publik maupun pribadi– gagal mencapai target berupa respons yang diharapkan, maka kita bisa simpulkan bahwa pembicaraan itu buruk atau tidak efektif. Meski demikian, ini bukan berarti semua pidato atau pembicaraan atau percakapan akan selalu berhasil. Bahkan dalam pembicaraan yang tiak bisa diterima pun, isi pembicaaan akan tetap dihargai jika si pembicara bisa melontarkan ide-idenya dengan cara terbaik.

Cara berbicara yang buruk atau tidak efektif bisa berbentuk mermacam-macam tipe. Misalnya; bicara yang tanpa tujuan, bicara yang tanpa jeda, bicara yang diulangulang, bicara yang tergesa-gesa, bicara yang bahasanya asal-asalan, bicara yang logikanya tidak jalan, bicara yang suaranya terlalu lirih atau terlalu keras, bicara yang tidak sesuai kondisi lingkungan, dan lain-lain.

Mari kita kaji kasus berbicara yang buruk terkait dengan cara bicara yang mengulang-ulang alias redudansi. Orang yang suka mengulang-ulang tema tertentu atau kata-kata tertentu dalam suatu pembicaraan bisa menimbulkan kesan bahwa ia orang yang tidak berfikir efektif. Karena menggunakan kata atau tema yang lebih banyak daripada yang dibutuhkan, ia bakal terkesan susah menemukan poin pembicaraan dalam waktu sesingkat mungkin –dan kadang malah tidak bisa menemukan poin pembicaraan itu sama sekali. Cara berbicara yang berulang-ulang itu mungkin didapatkan karena kebiasaan buruk sejak usia dini. Jika tidak mendepak jauh kebiasaan itu, ia akan kesulitan berkomunikasi karena tidak bisa sepenuhnya diterima orang normal di sekitarnya.

Cara untuk mengenyahkan kebiasaan itu adalah mengendalikan diri untuk berlatih memberikan jawaban seminim mungkin semisal ‘ya’ atau ‘tidak’ saja. Kalau bisa dilatih secara terkontrol, ia akan kagum betapa kalimat pendek itu bisa membantunya dalam hidup terkait semua percakapan dan bisa menyelamatkannya dari duel kata-kata yang fatal. Jika bisa mempraktikkan diri menghargai kata-kata pendek ‘ya’ atau ‘tidak’, ia bakal bisa mempelajari nilai dahsyat dari kata dan waktu. Maka, saat ingin mengungkapkan pandangan atau ide lebih lebar, ia akan menggunakan kata-kata yang hemat dan waktu yang seefektif mungkin.

Lawan kata dari redudansi adalah bicara yang terlalu disingkat-singkat sependek mungkin. Orang yang demikian akan sangat pelit bicara, dan pilihan kata-katanya sangat pendek dan terbatas sehingga penjelasan dari suatu ide bakal sangat kurang. Cara bicara seperti ini juga tidak disukai orang lain karena juga sulit dimengerti. Dalam kasus ekstrim, ini bisa menjurus ke perilaku kasar.

Menjaga diri untuk menghemat kata-kata seefektif mungkin jelas beda dengan memberikan jawaban monoton terhadap semua pertanyaan atau menghindari jawaban dari pertanyaan substansial. Yang pertama itu baik, yang kedua itu kurang baik. Berbicara ‘straight to the point’ memang bagus untuk kondisi tertentu, tapi kondisi lain juga membutuhkan sekadar basa-basi atau penghormatan. Bicara yang pendek dan cepat, seperti perintah atau komando dalam militer, boleh-boleh saja dilakuan saat dalam situasi eksekusi memburu sasaran tertentu –dan bukannya saat ingin menjelaskan sesuatu. Namun, dalam masyarakat secara umum, gaya bicara seperti itu akan menimbulkan kesan tidak enak pada orang yang diajak bicara. Mungkin pihak lain akan merasa diperintahperintah atau bahkan dibentak-bentak.

Tapi, ada sejumlah kecil orang yang beranggapan berbicara pendek dan keras semacam itu bertujuan untuk menunjukkan kewibawaan dan intelijensia. Betapa kelirunya orang yang beranggapan demikian. Hal-hal besar digerakkan oleh kesabaran dan ‘industri’ (kerja keras, terus-menerus, teratur). Hasil terbaik yang bisa didapat dari suatu pembicaraan adalah dengan perpaduan yang tepat antara kesopanan, keberadaban, dan pemahaman atas kondisi lingkungan.

5. Cara Bicara yang Defektif

Ini terkait dengan cara bicara yang cacat, rusak, atau tidak sempurna. Ada berbagai gradasi dari tipe kekurangan ini. Misalnya; dari kegagapan kecil hingga gagap absolut, dari sengau kecil hingga bindeng absolut, dan sejenisnya. Tapi, buku ini tidak membahas orang yang bermasalah bicara karena bodoh total atau punya degradasi

mental.Cara bicara yang defektif ini bisa menjadi kendala di dalam hidup, baik secara sosial maupun karir. Orang yang punya kendala berupa bicara defektif bisa menemui hambatan jika menerjuni profesi-profesi tertentu, semisal; aktor, pengacara, guru, dai, dan sejenisnya. Selain penderitaan batin, orang demikian juga bisa dihinggapi sifat rendah diri yang bakal menghambatnya meraih kemajuan dalam hidup. Namun, jika orang ini bisa menjaga keberimbangan mental dan mengendalikan sifat agresif, cara bicara yang tidak sempurna ini tidak akan menghalangi ia meraih kesuksesan. Bahkan, kecacatan ini bisa dimanfaatkan untuk meraih kelebihan. Contohnya, ada aktor yang cacat bicara tapi bisa memanfaatkan kecacatan itu sebagai karakter khas dia yang tidak dimiliki aktor lain.

Tentang kecacatan berbicara ini, ada pertanyaan besar yang harus dijawab. Apakah orang yang sudah berlatih keras dan lama bisa mengatasi masalah keterbatasan ini? Ada kecacatan berbicara yang terkait dengan penyakit klinis –dan buku ini tidak memberikan saran khusus tentang penyembuhannya. Meski demikian, latihan yang rutin, teratur, dan tekun akan memberikan dampak perkembangan besar sehingga ketidaksempurnaan berbicara ini bisa tampak lenyap atau bahkan benar-benar lenyap.

Sebelum mulai menjalani berbagai latihan yang disyaratkan untuk mengurangi kecacatan ini, ada faktor-faktor psikologis tertentu yang harus diperhatikan lebih dulu. Pertama, adalah kehendak dan keteguhan untuk berhasil menyempurnakan diri. Kedua, menundukkan masalah sehingga bisa membangkitkan kepercayaan diri.

Sebagaimana semua upaya untuk melakukan hal-hal besar, manuver pertama dan awal untuk latihan berbicara ini sering kali berakhir dengan kegagalan. Tapi, jangan putus asa. Jika sudah punya kehendak besar dan keteguhan, orang akan terus berusaha mencapai tujuan menyingkirkan kecacatan berbicara. Seperti semua pencapaian, ia harus tekun dan teguh dan tidak langsung patah arang dalam beberapa kegagalan awal. Jika punya keinginan besar, maka keteguhan berlatih akan gampang dijalani.

Kemudian, ia harus punya kepercayaan diri yang tinggi. Jika saat berlatih ia merasa malu, nervous, atau bahkan goyah, maka ia akan kesulitan meraih hasil yang optimal tak peduli betapa kuat ia berusaha menaklukkan permasalahnnya. Karena itu, syarat penting dalam mengatasi kendala bicara defektif adalah membuang semua bentuk rasa malu, cemas, nervous, dan bahkan takut. Takut adalah salah satu dampak buruk yang berakar dari sifat nervous. Jika berhasil mengatasi rasa nervous, maka orang bisa mencegah munculnya ketakutan di semua lini.

Ada anak yang tiba-tiba jadi gagap kalau berhadapan dengan ayahnya, atau prajurit yang selalu gagap jika berhadapan dengan komandannya, atau pria yang susah menata bahasa saat berhadapan dengan wanita cantik, dan sejenisnya. Padahal, mereka biasanya berbicara normal dan tenang. Sebaliknya, ada pembicara profesional –misalnya; aktor, orator, pengacara, salesman, dan lain-lain– yang saat dalam kondisi takut atau ketakutan pun tetap saja cara berbicaranya tidak goyah, cacat, atau kacau. Dalam kasuskasus luar biasa ini, kata-kata yang mereka ucapkan bukanlah representasi sejati dari kondisi aktual otaknya dan batinnya. Mereka mungkin saja takut seperti orang lain, tapi mereka telah melatih diri agar suara dan sikapnya tidak mengekspos kondisi internal

mereka.Orang yang gampang nervous hendaknya mau belajar pada orang-orang yang gampang menyampaikan kata-kata. Dengan mengikuti contoh-contoh dari mereka, ia bisa belajar berbicara dan menyampaikan kata-kata secara sendirian atau di ruang tertutup. Cara lain untuk melatih adalah membaca buku keras-keras dengan sikap sebaik mungkin. Namun, untuk memulainya, ia harus setenang mungkin. Jangan keburu mencoba melafalkan kata-kata sulit tertentu. Kalau gagal, itu malah bisa menghasilkan ketegangan baru. Jadi, biarkan lidah dan organ mulut lainnya bekerja dengan caranya sendiri dahulu. Terlalu memaksakan diri melafalkan dengan benar pada tahap-tahap awal latihan hanya akan menghasilkan kekecewaan. Ingat, inti dari latihan adalah memberi kesempatan pada lidah dan organ lain di mulut untuk menyesuaikan diri dengan berbagai kata sehingga bisa mencapai kenyamanan penuh saat mengucapkan kata-kata dengan benar.

Yang paling sulit diucapkan adalah beberapa konsonan tertentu. Jangan merasa malu atau kesal jika masih melafalkan ‘r’ sebagai ‘l’ atau ‘s’ sebagai ‘c’ dan lain-lain. Biarkan dulu melafalkan kata sebagaiman yang bisa dilafalkan; jangan mamaksakan diri. Lalu, jika sudah santai, perlahan-lahan arahkan pengucapan ke yang benar tanpa harus membuat otot-otot di sekitar mulut jadi keseleo.

Latihan tertentu juga mensyaratkan beberapa kalimat dibaca keras beberapa kali sehingga dengan tanpa sadar sudah berusaha mengoreksi kecacatan lidah. Dalam latihan membaca beberapa kali, lidah akan mulai terasa kehilangan kekakuannya. Saat lidah semakin lancar, pelafalan kata juga akan semakin lancar. Pembacaan pun bakal dirasakan semakin ringan, mudah dan lancar.

Meski demikian, kecacatan dalam hal-hal lain mungkin masih ada. Ini harus secara bertahap dieliminasi dengan latihan yang sama secara reguler setiap hari. Saat sudah merasa mencapai level yang baik dalam satu tahap latihan membaca, segeralah masuk ke tahap latihan berikutnya yakni berbicara tentang topik tertentu di depan orang lain. Ia harus bicara dengan lantang dan jelas pada beberapa pendengar dan harus mengkonstruksi kalimat yang baik seperti para dai, para guru, atau penceramah. Dengan kata lain, tindakan berfikirnya harus dicocokkan dengan kekuatan bicaranya sehingga kata-kata yang keluar dari bibirnya bakal mulus, logis dan penuh energi. Jika tidak ada kesesuaian antara otak dan mulut, maka ucapan akan sangat terganggu. Kebanyakan gangguan dalam berucap –atau tiba-tiba berhenti bicara di tengah pembicaraan– terjadi karena tidak ada keselarasan antara kekuatan berfikir dan kekuatan berbicara.

Kebanyakan orang biasa berfikir lebih dulu baru kemudian berbicara. Namun, pembicaraan yang lancar harus berlangsung normal dan tampak seperti terlontar begitu saja bebarengan dengan otak berfikir. Kelancaran berbicara seperti ini bisa didapatkan dengan praktik latihan yang panjang dan reguler. Karena itu lah orator atau guru senior akan bisa berbicara panjang dan lebar sehingga terkesan apa yang ia ucapkan bisa mengalir begitu saja di luar kepala. Maka, latihan penyesuaian antara otak dan mulut perlu terus dilakukan agar kata-kata bisa mengalir terus dari mulut. Itu akan sangat membantu seseorang misalnya saat akan menggambarkan keindahan alam. Selain bisa memaparkan dengan pilihan kata-kata yang tepat, ia juga bisa menggambarkannya dengan mimik dan bahasa tubuh yang memikat. Latihan demikian juga bisa untuk meningkatkan kemampuan berfikir otak, serta untuk menciptakan kohesi antara berfikir dan berbicara.

6. Konsentrasi

Di akar kohesi antara berfikir dan berbicara ini ada kekuatan konsentrasi. Seseorang tidak akan bisa menjadi pembicara yang baik jika tidak bisa menjaga konsentrasinya cukup lama atas topik yang sedang dibahas. Bahkan, andai ia tidak bisa menyelami topik itu atau memidainya seperti selayaknya seorang pakar, maka dengan terus berkonsentrasi ia setidaknya masih bisa mengikuti kecenderungan umum dari pembicaraan itu dan kemudian bisa membumbuinya dengan pengetahuan atau pendapatrnya sendiri. Dengan konsentrasi terhadap topik itu, ia tidak sekadar mengikuti cara pandang orang lain yang diajak bicara. Ia juga bisa memperkaya topik itu dengan pengetahuan dan pandangannya sendiri. Beberapa orang dikaruniai bakat tidak gampang berkonsentrasi pada hal-hal serius tertentu. Tapi, mereka tetap bisa menjadi pembicara yang baik jika tetap menjaga konsentrasi pada pembicaraan dan menjaga ketertarikan pada pokok bahasan. Ini bisa membuat mereka tidak hanya terus menambahkan hal-hal serius dalam diskusi tapi juga bisa memberikan humor ringan, komentar cerdas, dan sejenisnya. Dengan tetap memelihara ketertarikan pada pembicaraan, entah untuk tujuan serius atau sekadar rekreasi, orang tidak akan menjadi bosan atau lelah tapi bisa ikut hidup saat diskusi atau pembicaraan berjalan.

Ketidak-acuhan adalah siftat yang bisa memadamkan semua tipe pembicaraan. Pembicara yang baik harus acuh pada pembicaraan umum yang berlangsung di sekitarnya. Semakin acuh pada pembicaraan yang sedang berlangsung atau yang berkelanjutan itu, semakin besar ketertarikannya. Maka, seluruh bagian dari dirinya akan lebih gampang merespon pembicaraan. Ia akan bisa tertawa bersama lainnya, memberikan kritik atau applause bersama pihak lain. Ia akan merasa natural untuk membuka fikiran dan pihak lain akan merasakan hal serupa. Dengan sikap seperti ini, ia akan menjadi bagian dari percakapan. Saat ia sudah meleburkan diri dan merasa terlibat sepenuhnya maka ia akan merasakan apa pun yang ia ucapkan bakal diterima pihak lain dengan ketertarikan yang sama. Ia pun akan dianggap sebagai pembicara yang baik. Ada orang yang suka berbicara bukan demi mendapatkan kenikmatan dari pembicaraan itu sendiri tapi demi menciptakan citra dan menahan audiensnya belaka. Orang semacam ini adalah pembicara yang sudah mempertimbangkan segala sesuatu sebelumnya demi kepuasannya sendiri. Ia umumnya punya segudang bahan candaan yang bisa digunaan setiap kali ada kesempatan. Tapi, ia mungkin tidak sadar sisi negatifnya. Mungkin saja pancingan candanya menghasilkan gelak tawa, namun orang lama-kelamaan akan mulai sadar bahwa guyonan itu tidak sesuai dengan arah pembicaraan. Orang lain akan menjadi sadar ia hanya mencari popularitas dan tidak memberi kontribusi apa-apa pada inti pembicaraan. Bahkan, setiap ada peluang menggeser arah pembicaraan, orang lain akan melihat ia sebagai ganguan.

Tipe upaya-upaya semu dalam percakapan seperti di atas tidak akan pernah bisa membuat seseorang menjadi pembicara sejati. Bahkan, andai orang itu bisa memancing tawa di sana-sini, ia tidak akan bisa menjaga argumennya. Pada akhirnya, ia akan merasa kelelahan atau kaku lidah saat mendapat argumen kuat dari pihak lain.

Karena itu, lebih baik tidak mencoba memaksa pihak lain dalam percakapan terjerat dalam kepentingan sendiri dan lebih baik justru meleburkan diri di dalam pembicaraan itu. Jika seseorang punya sesuatu yang harus dikatakan atau disumbangkan dalam percakapan, ia harus menempuh taktik seperti di atas. Komentar atau lainnya harus diungapkan secara natural. Pembicara yang ingin benar-benar terlibat aktif di dalam percakapan bakal tahu dengan yakin komentar semacam apa yang layak untuk melengkapi dan menambah mutu percakapan. Jika dalam kondisi tertentu ia merasa tidak memiliki sesuatu yang ekstra untuk ditambahkan, maka ia akan merasa lebih baik mendengar saja apa yang diutarakan pihak lain. Dengan cara itu setidaknya ia bisa tahu lebih banyak tentang topik yang diperbincangkan sehingga bisa menambah pengetahuan dan pemahamannya sendiri.

Perlu dicatat, unsur utama pelengkap percakapan bukan cuma lontaran ide dan komentar. Yang juga bagus untuk membentuk tubuh percakapan adalah pertanyaan cerdas. Jika dalam percakapan itu ada satu pihak yang bisa melontarkan pertanyaan cerdas dan mencerahan, maka akan muncul jawaban yang tak kalah cerdas dan mencerahkan. Jadi, pertanyaan yang baik adalah bagian yang tak terpisahkan dalam suatu perbincangan, percakapan, atau pembicaraan dalam bentuk lainnya. Pertanyaan yang baik harus harus diapresiasi.

Sumber : http://id.scribd.com/doc/46328069/Pengembangan-Kepribadian-Cara-Bicara


0 komentar:

Poskan Komentar